Minggu, 04 Desember 2011

Sepasang Lensa Adelline (1)


Dia menatap gedung ini sedari tadi. Gedung yang berdiri megah di dalam sana. Dia semakin mempercepat langkahnya saat hujan mulai membasahi jalanan di belakangnya dan seolah semakin mengejarnya. Akhirnya sampailah dia di selasar gedung utama. Gedung yang lebih kecil dari yang tadi dia lihat saat melewati trotoar di depannya. Pukul  13.00 waktu Bandung. Matanya tak henti menatap setiap sudut ruangan gedung utama itu. Mencari sesuatu yang banyak orang di situ sedang mencarinya. Dan dia segera tahu tempat mana yang harus didatangi saat mendengar pengumuman dari pengeras suara itu. Aula gedung itu. Letaknya ada di lantai 3.
                “Selamat siang. Serta selamat saya ucapkan bagi kalian yang sudah resmi diterima di sekolah ini, Ganesha Bandung Art School.” Suara gemuruh tepuk tangan membahana di gedung yang besar itu. Dari sekian ratus orang di sana mungkin hanya dia yang terdiam tak menyambut hangat sambutan sang kepala sekolah tadi. Dengan malas dia menuju pojok ruangan itu, tepat di belakang dekat kaca besar yang menggantikan fungsi tembok gedung itu. Ditariknya headset dari saku tasnya, dan sesaat kemudian dia hanya bisa mendengar alunan music dari situ. Kini, ia hanya menatap jalanan di luar gedung melalui kaca besar tadi. Menerawang suasana yang selalu membuatnya ingin marah. Suasana gedung ini, bukanlah yang ia inginkan. Benar-benar bukan. Dia merasa dunia mengkhianati segala mimpinya. Bahkan, saat ini, dia merasa marah pada Tuhan. Ini semua karena gadis itu, Clara.
                Kemarin itu…
                Malam ini Ayah akan memutuskan siapa yang akan dikirim ke luar negeri untuk meneruskan masa SMA-nya di sana. Semua anggota keluarganya berkumpul di sana. Termasuk dia. Adelline. Dia sudah menunggu saat-saat in tiba. Saat di mana perjuangannya selama ini akan segera terbayar juga. Selama 3 tahun di SMP dia sudah berusaha mati-matian agar nilainya selalu naik. Walaupun di pertengahan semester 2 tahun lalu dia harus bersaing dengan saudara barunya. Tepatnya saudara tiri. Clara, resmi menjadi saingannya semenjak mamanya menjadi istri baru ayahnya. Mau tak mau Adel harus berjuang 2 kali lebih keras karena ternyata Clara tak semudah yang ia bayangkan. Dan jika malam ini dia tidak mendapatkan emas ini, entah bagaimana nantinya. Adel bisa melihat raut tenang yang terkesan angkuh dari sepasang ibu beranak itu. Kontras dengan ketegangan yang dirasakannya. Dan dia benci itu, dia benci dengan semua hal yang ada dlam diri ibu beranak itu. Namun bukan Adel namanya jika dia memperlihatkan dengan jelas ketegangannya. Dia lebih suka berpura-pura tak ada yang special di malam itu. Walaupun sebenarnya dia sangat ingin tahu siap yang akan mendapat kesempatan emas kali ini. Belakangan dia merasa ragu, akankah dia yang mendapatkannya. Padahal dari dulu dia selalu optimis bahwa dialah yang pantas untuk ini. Bukan Clara.
                Adel mendapati Sang Ayah sudah duduk di kursi keluarga saat dia kedua anggota keluarga lainnya menghampiri sang ayah. Sepasang saudara tiri itu duduk berdampingan.
                “Ayah tahu, kalin berlomba untuk mendapatkan kesempatan ini. Dan siapa pun yang mendapatkannya ayah harap kalin tetap harus berbesar jiwa menerimanya. Toh, kalau bukan sekarang, kalian tetap akan ke luar negeri untuk meneruskan kuliah. Untuk saat ini, ayah pikir sama saja antara sekolah di dalam maupun luar. Dan ayah udah memutuskan bahwa yang akan pergi ke luar adalah… Clara” apa maksudnya? Adel tak perlu berpura-pura untuk tidak mendengar, itu terlalu jelas terucap dari sang ayah. Dua silabel yang sangat jelas terdengar olehnya. Mimpinya, harapannya, perjuangannya, ketegangan yang ia sembunyikan sedari tadi, lenyap. Lenyap hanya dengan dua silabel yang ayah katakan untuk malam itu. Bahkan terlampau cepat untuk membuat sebuah keputusan. Apa ayahnya selama ini menutup mata dengan semua perjuangannya? Lagi-lagi bukan Adel jika kali ini memperlihatkan dengan jelas kekecewaannya. Dan dia hanya bisa tersenyum bahagia. Tentu saja senyum pura-pura.
                Adel merasa hidupnya seperti mimpi buruk yang benar-benar menjadi kenyataan. Kesempatan itu bukan untuknya, dan sebagai gantinya dia harus bersekolah di sekolah seni yang dia sendiri setengah hati dalam menjalaninya.
 Suasana ruangan yang semakin bergemuruh membuatnya gerah. Dia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu sejenak. Belum sampai 5 langkah, kakinya sedikit menyandung sesuatu. Dengan cepat dia menoleh kea rah benda yang terkena kakinya. Ternyata juga sebuah kaki, sebuah kaki milik seorang cowok yang lagi tertidur dengan headset putih menjuntai dari telinganya. Dia duduk di pojok ruangan itu pula. Awalnya Adel sedikit ragu, takut kalau-kalau cowok ini terbangun. Namun ternyata dia terlalu nyaman dengan tidurnya hingga tak merasakan getaran yang ada pada kakinya tadi. Tanpa berpikir panjang Adel segera melesat keluar ruangan.
Angin musim penghujan memang terkadang membuatnya leebih lega dan di pun merasa lebih baik. Adel menatap rerimbunan pohon yang sedari tadi meneteskan sisa-sisa air hujan. Ia baru saja menelpon rumah, kata Mbak Yun, asisten rumah tangganya, semua orang rumah sudah pergi dari 2 jam yang lalu. Ayah, tante Carissa dan Clara. Mereka sudah terbang menuju Washington DC. Tempat Clara akan meneruskan masa SMA-nya. Lagi-lagi dadanya terasa sesak. Impiannya harus berakhir di sini. Sekolah yang dihadirinya dengan setengah hati. Perlahan, bulir-bulir bening itu meluncur bebas dari matanya. Menetes mengenai rok seragam barunya. Sesekali ia mengeratkan blazer bertuliskan ‘Ganesha Bandung’ di dada kirinya. Sungguh, dia sangat tidak ikhlas dengan semua ini.
“Harusnya gue yang berangkat, harusnya gue yang ada di sekolah itu. Dan bukan loe, Clara. Harusnya loe di sekolah sialan ini. Bukan gue. Bukan loe, Adel. Harusnya dia, Clara.” Adel berkata lirih, berkata seolah Clara bisa mendengarnya.
“Dan harusnya loe nyari tempat nagis yang paling sesuai. Bukan tempat umum yang bisa diliat banyak orang gini.”Adel menoleh cepat saat terdengar suara itu dar samping tempat ia duduk.  Seorang siswa laki-laki yang Adel pikir sama seperti dia. Siswa tahun pertama. Namun dia tak mempedulikan omongan cowok itu. Dia terus menatap ke dapan tanpa berniat membalas ucapan cowok itu.
“Gue kira semua murid yang masuk ke sekolah ini punya jiwa optimistis yang tinggi. Ternyata nggak juga. Gue masih nemuin orang-orang yang kayak loe ini. Pesimis, dan bisanya Cuma nyalahin orang lain. Tapi apa loe tahu, apa yang udah ngebuat loe ga dapet yang loe pengen? Ini Cuma masalah waktu. Jangan Cuma bisa nyalahin orang lain.”
Adel menatap orang itu sekali lagi. Dengan gerakan cepat dia menghapus airmatanya dan sekejap meninggalkan cowok itu. Namun baru 3 langkah, dia berbalik lagi. Cowok itu menatap Adel heran. Tak disangka, Adel mengayunkan kaki kanannya menuju tulang kering kaki kanan cowok itu.. Awww… Adel hanya tersentum miring melihat cowok itu memegangi kakinya. “Jangan bicara sok malaikat. Gue gak butuh.” Cowok itu menatap kepergian Adel dengan taptapan sinis. Namun tatapan itu berubah menjadi senyuman miring yang bisa memperlihatkan lesung pipinya. Gadis itu, permainannya akan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa diselesaikan.
                

Rabu, 30 November 2011

Hear Me Now


                                                                                             
Angin musim penghujan semerbak menerpa wajah setiap orang yang keluar pagi itu. Gerimis lembut menyambut pagi di selatan Semarang yang dingin. Dingin semaki ke atas. Membuat anak-anak sekolah malas bangun karena dingin yang lumayan menusuk tulang. Membuat para pegawai negeri ragu untuk bekerja karena malas menaiki angkutan umum yang tentu akan terserang macet di jalan.
                Namun kemalasan itu tidak berlaku bagi Ranin yang harus berangkat sekolah sepagi ini. Tambahan pagi, jam ke nol sudah dimulai sekitar 2 minggu lalu. Kelas XII menjadi tahun tersibuk yang akan dia jalani. Demi mendapat nilai terbaik di kertas ujiannya nanti dia harus merelakan kebiasaan berangkat siangnya ia lupakan sejenak.  Dia melirik jam tangan simple yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Masih ada 10 menit sebelum bel sekolahnya mengamuk. Dan lumayanlah, pagi ini angkutan yang ditumpanginya tak terserang macet. Dia cukup beruntung, kesibukan pagi belum terlalu terlihat, karena pasti sebentar lagi dia bisa saja menyaksikan kepadatan jalan dari kelasnya di lantai tiga sekolahnya. Dan pagi ini beruntung, dia masih bisa menikmati jalanan lengang dari kelasnya.
                Ranin menbaca pesan singkat dari Shita. Senyum sinisnya tiba-tiba terukir manis di wajahnya. Lana dan Hingga  lagi. Batinnya sarkatis. Ranin beranjak dari kelasnya. Masih ada 10 menit sebelum bel jam kelima berbunyi. Dia menyambangi kelas Shita di ujung lantai 2. Dia harus sering-sering mengeratkan jaketnya saat merasa angin pagi itu semakin menusuk tulang. Ditambah lagi hujan yang tak terlalu deras namun tak kunjung berhenti membuatnya semakin kedinginan.
                Shita sedang membolak-balik majalah fashion edisi terbarunya. Senyumnya terkembang melihat Ranin berada di ujung pintu kelasnya. Dengan cepat dia menutup majalahnya dan berlari keluar menghampiri Ranin.
                “Hei, langsung ngacir aja abis dapet sms tadi.” Sindirnya penuh rona jahil. Ranin tak menaggapi serius.
                “Apa dia masih marah sama gue ya, Ta? Sampe kemarin gue ketemu dia, dia masih diem.” Ranin menatap pepohonan yang basah oleh air hujan dengan melasnya.
                “Gue gak mudeng masalah kalian sebenernya apa. Jadi gimana gue bisa tahu dia masih marah apa gak sama elo. Lagian dia juga gak cerita tentang loe, tuh.” Ranin menoleh mendengar kalimat terakhir Shita barusan.
                “Dia gak cerita? Loe gak coba nanya ke dia? Tentang gue?”
                “Aduh Ranin, kalo ntar gue tanya-tanya tentang loe, ntar dikira gue pengen tahu masalah orang. Lagian dia kan gak tahu kalo selama ini gue sering bocorin cerita dia ke loe.” Shita meniup kedua tangannya karena dingin mulai merayapi lagi.
                “Baru sehari gak ketemu Si Hingga bikin gue bener-bener bingung. Gak ada yang dengerin cerita gue, Ta.”
                “Iya juga,sih. Loe kan seringnya cerita sama dia ya. Sayangnya gue bukan orang yang tepat jadi pendengar setia. Hehe… Sori ya.”
                “Gak apa-apa, gue maklum kok. Loe kan juga sibuk sama club cheers n tugas lainnya. Beda sama Hingga, sesibuk apapun dia pasti ada aja waktu buat gue. Tapi sekarang …. “ kalimat Ranin menggantung. Bel sudah berbunyi, dan Ranin mulai melangkah cepat saat dilihatnya guru Fisika  sudah lebih dulu menuju kelasnya.

Kami juga ingin menikmati cerita pagi, sejuk sinar mtahari, wangi hujan gerimis, hembus angin siang hari, jingga langit sore ini, dan malam yang kami harap tak segera berakhir. Hanya saja kami dibuat berpikir bahwa Matematika dan Fisika lebih penting dibandingkan hanya menikmati hujan dari jendela kelas kami.
Angka-angka ini menjadi kabur si mata Ranin karena selaput bening melapisi bola matanya. Bukan menangis. Mengantuk. Siang ini ada acara rapat panitia majalah sekolahnya, My School Page Magazine. Hingga duduk di seberang tempat duduk Ranin. Tempat duduk yang dibuat melingkar membuat Ranin dan Hingga dalam posisi berhadapan. Hingga tampak serius dengan laptop acer andalannya. Sesekali menggeser kepalanya untuk melihat gadis yang terlihat sangat menderita karena rapat tak kunjung selesai. Matanya merah, berkali-kali dia mengucek matanya. Berkali-kali berusaha tetap terjaga walaupun matanya serasa dilem dengan lem super. Jelas saja Ranin ngantuk setengah mati. Rapat kali ini membahas content-content apa saja yang akan keluar di edisi depan. Sedangkan Ranin merupakan fotografer di redaksi majalah ini. Sebenarnya dia tak datang pun rapat tetap berjalan dengan baik. Karena memang kali ini tidak membahas sesuatu yang menyangkut dengan pekerjaannya.
“Buat interview beberapa band, tugas ini gue kasih ke reporter  1, Dina. Buat foto band-band ini gue kasih ke Ranin. Eh, Ranin mana, sih? Kok gak kedengeran suaranya?” Faza, ketua redaksi celingukan meneliti satu persatu anggota redaksi mencari Ranin. Dan akhirnya dia menghela napas dengan ekspresi lucu karena mendapati Ranin terlelap dengan tangan di dagu sebagai penyangga. Seisi ruangan hanya menggeleng pelan. Kecuali Hingga, tak berpaling dari layar laptopnya.
“Berhubung Ranin lagi tidur, tugas dia gue kasih ntar nyusul aja. Ntar tugasnya gue kasih ke loe, Ngga. Biar ntar Ranin contact loe, ok?” Hingga mengangguk kecil. Hingga menjadi orang yang paling dipercaya karena memang dialah yang paling dekat dengan gadis itu.
Rapat sudah selesai 30 menit yang lalu. Dan di ruangan ber-AC itu hanya tertinggal Hingga dan Ranin. Ranin masih belum bangun. Dan Hingga masih menyelesaikan beberapa desain untuk pelbagai macam proyek bisnisnya. Pukul 4 sore tepat. Hingga mengemasi laptopnya. Dan setelah itu, tatapannya terpaku pada wajah Ranin.  Ketika polos dalam tidurnya.
Sore itu, hujan kembali mengguyur setelah tadi terhenti sebentar. Ranin menggikuti langkah panjang Hingga menuju ujung koridor lantai dasar gedung sekolahnya. Pikirannya disibukkan dengan Hingga. Cowok ini, sehari ini dia hanya berbicara saat memberikan jadwal deadline majalahnya. Tak lebih. Tak ingatkah dia setiap kali dia datang dengan segudang keluhannya, dan Ranin siap mendengarkan keluhannya. Tanpa sadar Ranin menggumamkan umpatan kecil sepanjang jalan tadi. Sampai sekarang sampai di lapangan parkir sekolahnya, tepat di belakang tubuh Hingga. Padahal Ranin tak berniat pulang bersama Hingga. Lagipula sedari tadi Hingga tak menawarkan tumpangan baginya. Lalu kenapa dia bisa mengikuti cowok ini sampai ke parkiran. Tepat di depan motornya pula.
“Loe mau nabeng?” tanya Hingga saat menyadari Ranin masih berada di belakangnya. Ranin diam, kalau bilang iya, gengsi. Mereka kan baru diem-dieman. Mau bilang nggak, tapi kok ujan. Alhasil, Ranin hanya bisa membalikkan tubuhnya berniat meninggalakan Hingga. Lebih baik dia pulang sendiri, lagipula hujan di luar sudah tidak terlalu deras. Berdiri menunggu angkutan agak lama tidak akan membuatnya basah kuyup.
5 langkah Ranin menghitung langkahnya. Dan tepat di ayunan kaki menuju langkah ke-enamnya, dia merasa ada sesuatu bersarang di kepalanya. Sebuah helm yang lumayan berat. Hingga pelakunya. Tanda bahwa Ranin harus pulang bersamanya.
“Helm loe kenapa?” Ranin berbalik sambil melepas helm milik Hingga. Walaupun sudah jelas baginya bahwa Hingga berniat mengajaknya pulang bersama. Hingga tak menjawab. Dia sudah berada di atas motornya sekarang. Menatap datar ke arah Ranin.
“Gue bisa pulang sendiri, kok.” Ranin berkata lagi sambil melangkah menuju motor Hingga dan memberikan helm itu pada pemiliknya. Sekejap, tanpa memberikan kesempatan Hingga untuk berkomentar, Ranin meninggalkan parkiran sore itu. Berjalan menembus rintik hujan yang sudah berubah menjadi gerimis lembut. Batin  Ranin terus berkecamuk. Tak ingin menolak tawaran Hingga tadi, namun hatinya terlanjur tak mengerti dengan sikap Hingga yang membingungkannya. Sungguh, tak mengerti sedikitpun terhadap sikapnya.
Di bus itu, Ranin menahan agar matanya tak berkedip, karena jika satu kedip saja tercipta maka cairan bening itu akan mengalir dengan lancar di pipinya. Di samping bus itu, Hingga menaikkan kaca helmnya agar bisa melihat Ranin lebih jelas. Dia duduk di barisan paling belakang tepat di sebelah kaca bus tersebut. Kaca yang basah oleh airmata lagit sore itu menjadi pemisah rasa masing-masing dari mereka. Ranin tak menyadari keberadaan Hingga di sana. Sampai dia turun di pertigaan jalan menuju perumahan tempat tinggalnya. Hingga juga berhenti, dia berada cukup jauh dari Ranin hingga dia tak menyadari keberadaannya saat itu. Ranin pulang dengan mata basah juga akhirnya. Hujan kali ini berakhir di ujung pertigaan itu. Masing-masing bersama arahnya, kembali menekuri rasa.
                                                                ***********
Mendung menggantung di langit-langit siang ini. Guru seni rupa kelas Hingga masih sibuk menjelaskan bagaimana cara membuat segilimabelas yang benar. Ia sendiri sibuk mengetik pesan singkat untuk Ranin. Walaupun sebenarnya dia masih tak ingin berhubungan dengan gadis itu. Namun karena memang kali ini dia harus menghubunginya.
Di kelas Ranin, dia merasakan ponselnya bergetad di saku roknya.
From : HinggaAntara
Pulang skul ad acara g?
Ranin berpikir sejenak, tidak, dia tidak ada acara untuk siang ini. Dia sudah mengetik balasan untuk sms Hingga, namun lagi-lagi pikirannya melarang. Lalu dia membatalkan untuk membalas sms Hingga. Dia harus membiasakan diri tanpa Hingga. Dia ragu kalau-kalu Hingga hanya untuk sementara baginya. Tak seperti dulu. Walaupun dia sangat berharap itu tak kan pernah terjadi.
Shita menghampiri Ranin di ujung koridor lantai dua. Dia sedang memandang ke deretan burung dara yang berjejer di atap rumah warga di sebelah gedung sekolahnya. Angin musim penghujan menerpa wajahnya menciptakan semerbak wangi dedauan di seberang gedung.
“Hei, lagi ngapain, sih? Bukannya pulang malah ngadem di sini.”
“Loe juga kenapa nggak ke aula? Malah nyamperin gue di sini. Bukannya ada rapat anak-anak Cheers?” suara Ranin terdengar sedikit aneh. Karena tadi malam. Hingga membuat matanya tak dapat menahan aliran cairan bening itu. Itu semua menghasilkan suaranya menjadi sedikit aneh di pagi harinya.
“Hingga baru cerita sesuatu sama gue.” Shita berkata singkat.
“Oh, kirain kenapa.” Shita menoleh cepat mendengar respons Ranin yang biasa-biasa saja. Tak biasanya. Sebenarnya dia sadar atau tidak dengan ucapannya barusan.
“Loe gak pengen tahu dia ngomongin apa? Loe gak pengen tahu dia cerita tentang siapa?” Shita semakin heran mendapat jawaban berupa gelengan dari Ranin. Ranin ganti menatap Shita dengan senyuman lalu meninggalkan Shita yang masih bengong.Ranin sudah lenyap di ujung tangga koridor lantai dua.
“Dia bialng kalau dia sebenarnya gak rela kakaknya suka sama loe, Ran. Dia sayang sama loe, Ran.” Shita berbicara seakan Ranin bisa mendengarnya dengan jarak jauh.  Shita tahu, Ranin menyukai Mas Resa sedari dulu. Dan sekarang Shita juga tahu kalau Resa juga menyukainya.

Ranin menatap Hingga yang kini berada di hadapannya. Di tengah lapangan basket siang itu. Mendung masih menggantung menciptakan warna lagit menjadi hitam. Hingga memegang sebuah kotak kado kecil di tangannya bermotif Happy Feet, film kesukaan Ranin.
“Ini dari kakak gue. Tapi asal loe tahu, gue gak pernah terpikir untuk ngasihin ini ke elo. Gak akan. Ran, gue mohon sama loe. Jangan peduliin kakak gue. Please, jangan lihat dia, Ran. Selama ini gue diem bukan karena gue marah atau gak mau lagi jadi sahabat loe, bukan. Gue cuman gak siap mendengar cerita-cerita baru loe tentang kakak gue. Karena dengan mendengar cerita loe tentang dia, gue…” Hingga berhenti sejenak. Ranin masih menunggu kata-kata Hingga selanjutnya. Gerimis sudah turun menciptakan bintik bening di rambur Hingga dan Ranin.
“Gue  ngerasa makin gak pantes buat loe. Gue sayang sama loe sejak persahabatan kita dimulai. Jadi, please. Luapain Resa dan mulai ngelihat gue di sini, Ran.”
“Persahabatan kita gak pernah dimulai, Ngga. Bahkan gak akan pernah berakhir. Walaupun gue percaya gak ada sahabat sejati di dunia ini.”
“Bahkan gue bukan sahabat yang baik buat loe.” Hujan mengguyur mereka berdua. Tak begitu deras. Tapi cukup membuat mereka berdua berteriak dalam berbicara agar dapat mendengar satu sama lain.
“Loe emang bukan sahabat yang baik buat gue, tapi gue sekarang yakin. Cuma loe yang gue cari waktu gue gak tahu harus ngapain. Hingga. Aku sayang kamu.” Air mata Ranin bercampur dengan air hujan siang itu. Mereka tersenyum dalam hujan. Menciptakan gelembung-gelembung rasa yang ternyata terpendam sejak dulu. Sungguh, Hingga Ranin menemukan sepotong jiwanya.

How Do they Work ?

 
  Bump Apps
Teknologi mengirim data baru dari iPhone dan Android. Aplikasi ini bernama Bum. Nggak kayak pengirim data lain kayak infra red ataupun Bluetooth, Bump tampil lebih keren. Gimana nggak, bayangin aja kita Cuma perlu menggoyang ponsel dan data sudah bisa terkirim ke ponsel tujuan.aplikasi ini memanfaatkan sensor gyroscope. Begitu gyroscope mndeteksi getaran ponsel, ponsel akan otomatis membuka gate ke akses internet untuk pengiriman data. Dan pas data sampai di server bump, software langsung otomatis mencari ponsel yang sedang mengaktifkan aplikasi bump terdekat . setelah terdekteksi, selanjutnya server akan mengirimkan data langsung ke ponsel.

   


1.        Scanner
Kita mungkin udah sering menggunakan benda satu ini. Yup,scanner. Tapi ternyata banyak dari kita ang belom tahu cara kerja scanner ini. Scanner ini bekerja memanfaatkan cahaya. Pas kertas ditempel ke kaca scanner cahaya lampu yang ada di bawah scanner akan menyorot kertas ini. Pantulan cahaya dari kertas tadi bakal dibaca oleh sonsor CCD (sensor yang sama di kamera). Setelah itu image yang tertangkap tadi menjadi digital oleh ADC (Analog to Digital Converter). Sinyal digital inilah yang kemudian menjadi gampar di layar PC kita.



 
1.    
  Universal Charger
Charger minimalis dan nggak repot buat bawanya. Universal Charger atau inductive charger sebenarnya adlah charger ponsel biasa. bedanya bentuk konektornya yang dibuat bida diterima sama semua ponsel. Selain itu charger ini nggak Cuma bisa ngambil daya listrik dari stop kontak listrik tapi juga dari PC atau perangkat mobile computer dengan menghubungkan kabel charger dengan port USB. Daya listrik yang mengalir ke cairan kimia dalam baterai posel dan mengubah cairan tersebut jadi beraliran listrik.


 
1.       Gyroscope
Beberapa smart touch screen phone kayak iPhone punya sensor yang bisa merasakan tangan pengguna saat memegang ponsel atau menggoyangkannya. Sensor tersebut disebut Gyroscope.  Gyroscope bekerja mendeteksi gravitasi normal, tarikan dari bawah, gyroscope menganggap posel dalam kondisi diam,. Namun waktu ponsel dalam kondisi bergerak, gyroscope akan mendeteksi perubahan gravitasi sesuai arah ayunan kita. Hasil presepsi gyroscope ini diteruskan ke prosessor untuk kemudian menampilkan efek image pada layar yang mengikuti gerak ayunan posel.




1.       QR Code
QR (Quick Response) Code mulai banyak muncul menggantikan Barcode. QR Code memiliki keunggulan dibandingkan Barcode, dia bisa menyimpan data 10 kali kapasitas Barcode. Kalo Barcode hanya terdiri dari garis-garis vertical, QR Code ini terdiri dari garis vertical, horizontal, bahakan titik sebagai sandi datanya.. data apapu, mulai dari teks hingga alamat web bisa disimpan di sini. Aplikasi QR Code ini akan memecah sandi. Jika sandinya berisi alamat website, maka dengan sendiri sandi akank mengarahkan kita ke website bersangkutan.